Feb 9, 2012

Wall Of Love

Harapanku tentang cerahnya hari ini runtuh seketika saat sebuah kabar aneh itu sampai ke telingaku. Kabar yang benar-benar membuatku ingin marah! Apa sih maksud dari kabar aneh? Ah tidak bukan aneh tapi kabar ini benar-benar gila!Hatku berontak!

“Beneran, Deri suka sama kamu, Desi!” untuk ketiga kalinya Maya mengatakan hal yang sama semenjak 10 menit lalu. Teman-teman sekelasku mulai gaduh, tak terbendung suara gaduh itu, sukses merayakan kekonyolan pagi ini! Dan tentu saja objeknya adalah aku!

Aku hanya bisa menahan amarah, diam. Ah tidak wajahku bersemu merah. Antara marah dan entah apa. Memperlihatkan bahwa ada hati yang berkecambuk.
Deri? Siapa dia?Hatiku ikut bertanya.
Ah sial! Kenapa juga aku harus bertanya seperti itu.

Sekali lagi aku melihat Maya, Dari awal pertemuan tadi dia memperkenalkan dirinya bahwa dia berasal dari kelas IPS 5. Semenjak masuk SMA aku belum pernah mengenalnya. Apalagi laki-laki bernama Deri. Aku tidak pernah mengenalnya! Bagaimana mungkin dia berani mempunyai perasaan suka padaku.
Ah kerjaan siapa ini? Hatiku semakin bergolak.
Bikin bad mood aja pagi-pagi begini.

“Kalau kamu tidak percaya, aku akan tunjukan bukti bahwa Deri benar-benar suka sama kamu Desi,” ucap Maya sambil tersenyum.

Aku masih tidak bergeming. Bukti? Apalagi ini.

“Buktinya ada di Tembok Curhatan. Ada hal yang kamu harus lihat, dan tentu saja harus kamu baca,” Intonasi Maya dibuat mendayu senyum mengiring kata-kata yang baru ia ucapkan.

Seisi kelas semakin tak terkendali saat mendengar kata Tembok Curhatan. Tembok belakang sekolah yang dijadikan media curhatan anaka-anak labil! Ah kenapa Kepala Sekolah turun temurun tidak pernah melarang mencorat-coret tembok sekolah. Alasan klasik. Nama mereka juga ada saat mereka masih muda. Waks!

Teman-teman sekelasku mulai berhamburan dari kelas. Berbondong-bondong menuju tembok belakang sekolah. Tembok Curhatan. Tempat curhatan manusia labil anak SMA. Haruskah namaku sekarang yang terukir disana!
Arrggggghhhhhhh!!!!
Aku lunglai.
Ya Tuhan.

“Des, kamu harus melihat apa yang di katakan Maya, dengan begitu kamu akan tahu kebenaran kabar ini,” Ucap Dinda menenangkanku, ah Dinda kamu memang sahabat terbaikku. Rasanya hanya kamu yang selalu ada untuk menguatkanku saat aku rapuh.

Aku kembali tegak. Menantang senyuman Maya. Baiklah, aku harus hadapi ini!

Dengan mantap aku langkahkan kaki, mengikuti langkah Maya yang sudah terlebih dulu berjalan di depanku. Apakah yang tertulis di Tembok Curhatan, siapakah Deri? Pertanyaan-pertanyaan itu mengiringi langkahku.


-Bersambung....


7 comments:

  1. Jiaaaaahh...bersambung, baiklah, aku pun ikutan penasaran siapa deri :p

    ReplyDelete
  2. jadi ingat jaman SMA, dibelakang sekolah ada tembok panjang tapi cuma dijadiin lahan buat Mural. bukan tembok curhatan :D

    ikut menunggu sambungannya :)

    ReplyDelete
  3. Cukup membuat penasaran utk menunggu kelanjutannya, tapi kayaknya penguraian rasa penasarannya terlalu bertele-tele.

    ReplyDelete
  4. mulai lagi nih sobat arr rian dengan cerbungnya :D

    sukses selalu sob

    ReplyDelete
  5. udah dibaca bener" malah bersambungggg....
    Deri itu pemain sinetron ^^
    Deri Drajat

    ReplyDelete
  6. Nge-cut ceritanya pas banget, membuat pembaca jadi penasaran :)

    ReplyDelete

Terima Kasih sudah berkunjung.Happy Blogging