Showing posts with label Arr Puisi. Show all posts
Showing posts with label Arr Puisi. Show all posts

May 2, 2013

Tak pernah menyalahkan waktu

ambil dari sini
saya tidak pernah menyalahkan rindu, 
tapi seringnya menyalahkan waktu.
kenapa waktu tidak berhenti sebentar saja 
saat tiba-tiba saja rindu menghampiri

terinspirasi setelah membaca Hujan, Senja, Dan Rindu Yang Bersalah?

Mar 22, 2013

Tak Bisa Membawamu


“Kita memang tidak pernah bisa sampai bukan?”
Pertanyaanmu menghentikan langkahku perlahan. Aku menghela nafas panjang. Menata senyumku. Sempurna. 

Aku berbalik. 
Kamu malah manyun.

Aku menghampirimu dengan tetap menyimpulkan senyum. Mendekatkan wajahku dekat ke wajahmu. 

Kamu membuang wajah ke kiri. Aku arahkan lagi wajahmu ke kanan dengan tangan kiriku. Aku masih tersenyum. Kamu tetap manyun.

Aku rapihkan rambut yang menjuntai menghalangi mata kirimu. Dengan perlahan aku merapihkannya. Aku masih tersenyum. Kamu masih bertahan. Manyun.

Feb 17, 2013

Katamu Pagi

pada teduh embun yang bersembunyi dibalik daun jambu
aku sembunyikan rindu yang membeku
dari hangatnya senyum kamu pagi ini

Jan 25, 2013

Senja dan Awan

kamu suka sekali menatap senja, 
mengikuti laju awan yang berarak
tersenyum 
aku suka

adakah kamu tahu
setitik senja pada akhirnya
terkikis perlahan dalam gelap
 
lalu
akankah aku begitu
terjebak dalam gelap

saat senyummu
tak lagi ada 
esok
pada 
senja

Jan 4, 2013

Selepas Hujan

baru saja aroma hujan perlahan pergi
meninggalkan serpihan rindu
dalam dekapan senja
sore ini

duhai hujan
jika hendak kembali
jangan pernah membawa dia

lagi
  

Dec 28, 2012

Kerapuhan


                                   dari kakakku

tubuh ini rapuh
kosong tak berpenghuni
seperti batu
diam
kaku
membisu
tubuh ini rapuh
tak berdaya beranjak
tak berani menatap 
akan gelap didepan
itulah aku si mata bayi

Dec 21, 2012

Waktu Subuh Hari


suaramu masih menjelma duri
aku hanya menekuri lantai
terluka dalam

28021431

Dec 18, 2012

menemukanmu

pada langkah ke tujuh
akhirnya aku menemukanmu
pada butiran jingga

Dec 15, 2012

Bias

kalaupun tadi sore hujan
apakah kamu masih 
memendam rindu yang sama?

Dec 6, 2012

hujan desember

gambar dsini

rambut indahmu seakan jatuhan hujan yang menari di bulan desember,
utuh menyatu bersama senandung angin sore

meniupkan kata rindu yang sering kamu titipkan pada titik-titik air hujan,
utuh menyapaku bersama luapan rasa yang sama

menetes perlahan pada hati yang sama-sama sepi,
utuh memenuhi setiap jengkal detik kesendirian

bila detik mampu ku tahan
akan ku sisipkan rinduku ini
pada satu titik hujan

biar jatuh,
tepat pada rambutmu
sebagai dekapan rindu


yang tak ingin lepas



Note: "Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi"

Nov 28, 2012

Terusik Hujan


aku sadar
dan sangat menyadari
hujan yang turun kemarin sore 
tidak seharusnya aku mengingatmu

mengingat saat kamu tersenyum
ah saat mengingatmu
aku bagaikan mawar terinjak hujan
tersapu air bah

aku terusik hujan
bah!

Sep 13, 2012

Ah, Sesal!


Ah, Sesal!
mata kita terpaut
menyelami sesuatu 
aku tahu
kamu juga 

rasanya hal ini pernah terjadi

tapi, seperti bayang yang kabur
menguap menjadi cahaya

saat tatapan kita terlepas
aku baru menyadari

pernah menyelami matamu
lebih dalam
di buaian mimpi

ah!
sesal, aku tidak berani
memberimu senyum tadi pagi

Jul 14, 2012

Ya, aku (telah) menemukanMu kembali



Aku menemukanMu kembali…
Ya, saat menatap langit biru berawan lembut,
Saat matahari hangat menyapa embun,
Saat kaki-kaki kecil itu lincah berlarian,
Riang menatap pagi menatap harapan,

Aku menemukanMu kembali..
Ya, saat angin juga tak lupa berbisik
Pada helaian bulu sayap merpati
Pada mahkota bunga yang terbang
Pada lembutnya jatuhan embun
Segar membasahi tanah

Aku menemukanMu kembali…
Ya, saat aku dapat membuka mata
Menatap sinar mentari
Menghirup udara pagi
Menginjak tanah

Ya, aku (telah) menemukanMu kembali

Jul 5, 2012

Itu adalah aku



Cahaya mentari pagi ini 
bisa jadi itu adalah aku,
hangatannya, pancaran rindu 

Segarnya udara pagi ini 
bisa jadi itu adalah aku,
semilirnya, untaian puisi cinta

Nyanyian merdu pagi ini
bisa jadi itu adalah aku,
iramanya, barisan lirik doa

kamu tersenyum,
ah senyum mu juga
bisa jadi itu adalah aku!

sebab hatimu
berbisik demikian
^___^


-Ruang Tengah-
060712
arr rian





Jul 3, 2012

Menemuimu Di Bulan Juli

bulan juli sudah menemuiku
membisikan
kamu sudah menunggu
di sudut malioboro

Jul 2, 2012

Hadiah di Bulan Juni


pada lintasan waktu lalu, aku mencoba membiaskan senja yang berlayar rendah
mengalihkannya pada deburan ombak yang tidak lagi mengamuk
seperti biasa aku menikmati senja begitu dalam
menjelajahi serat-serat cahaya lembayung
membiarkan angin laut menyelisik lembut
mendengarkan suara alam mendamaikan senja

aku sangat paham senja yang indah itu 
sangat cepat berlalu
meninggalakan gelap
melepaskan sunyi

lalu pada sebuah jejak pasir
aku menemukan sebuah kerang putih
terdampar sendiri
menepi dibalut pasir

aku menamai kerang itu
sesuka hati
pengusir sepi

dan aku ingat itu bulan juni
saat hujan entah pergi kemana

aku menamainya sesuka hati
menitipkannya pada pantai

"aku tinggalkan hadiah ini"
bisikku pada pasir
aku melangkah pergi 

Yogya-Malang
2010-2012

Jun 18, 2012

Selamat Pagi, Dinda!

Chizuru Chan >.<
pagi ini Dinda,
mentari masih malu keluar,
embun masih berselimut,
bulan masih menggantung, bias.

yang kuingat tentang pagi,
adalah kamu yang berlari membawa bunga mawar merah,
masih ada titik embun di kelopaknya.
Helaan nafasmu menitikan embun
Kamu habis berlari? tanyaku dalam hati.

“Selamat Ulang Tahun!”,
ucapmu ceria, kamu hadapkan bunga mawar itu padaku,
pipimu yang kemerahan tampak seperti kelopak bunga mawar yang kau bawa.
Pagi yang Indah, batinku.

“Sebutkan satu permintaan, dalam hati saja ya”, pintamu kemudian.
dan pintaku waktu itu,

Duhai Tuhan, jikalau aku banyak kesempatan, aku ingin menikmati pagi seperti ini, ditemani senyum ceria Dinda.
aku mengakhiri,
dan Dinda mengamini

wajahnya semakin bersemu merah
Ya, permintaan ku hanya satu pagi itu
bisa melihat senyum manis diwajahnya
yang bersemu merah


#menemukan ini setelah nonton film Tokyo Marble Chocolate

Jun 10, 2012

Melepas Awan Pergi

senja ini tak lagi menganggapku ada
padahal aku sudah sampaikan pada langit
"izinkan aku pergi sebentar"
tampaknya mentari juga terburu pergi
tidak sempat menyampaikan
"aku hanya pergi sebentar"
lalu bagaimana sekarang?
langit semakin gelap
sedangkan mentari telah tenggelam
aku hanya tersudut
tak bisa menahannya

May 22, 2012

Prasasti Senja

Senja itu perlahan menyapaku lagi,
aku sudah menghindari,
kamu
dalam setiap jengkal pikiranku,
ah, bukan!
dalam setiap detik yang terlewat
ada kamu yang diam-diam terlekat.
menyanyat sebuah prasasti senja sore ini
bisakah kamu tinggal?
atau aku yang telah tertinggal?


pada sebuah prasasti senja
aku tinggalkan pesan
seteguk rindu
untuk dahaga
yang belum juga habis

May 2, 2012

Ya, suatu hari nanti

aku kini memilih diam
diam menyimpan rindu
diam menyimpan sgala sesuatu hal
tentang dirimu
biar saja kupendam dalam diam

ya, suatu hari nanti
aku pasti akan ungkapkan