28 Juni
Senja
Lembayung senja akhir bulan juni itu kurasakan sangat berbeda. Ya, sore itu awal aku berjumpa dengan dia.Dinda. Sungguh aku tidak menyangka dia hadir mengisi hidupku disaat hatiku sedang rapuh.
“Kamu juga suka senja ya?” tanya Dinda lembut sambil tersenyum.
“Iya,” jawabku sambil membenaran bidikkan kamera.
Hari itu bukan hanya senja yang bisa kurekam dalam kamera, namun perempuan bernama Dinda, terekam jelas dalam ingatanku.
29 Juni
Aku ingin merekam senja lagi sore ini. Namun yang kulihat dalam bidikan bukanlah senja lagi, perempuan terindah bernama Dinda itu sekan tergambar jelas. Senyumnya seakan membalut hatiku yang luka. Mata lembutnya seperti kobaran semangat hidupku. Wajahnya adalah peneduh amarahku. Dan baru kusadari betapa indahnya dirimu, Dinda.
30 Juni
“Bukankah kita sudah kesini sebelumnya?’ tanya Dinda heran.
Aku hanya tersenyum sambil menatapnya. “Dinda aku ingin senja meyaksikan kata-kataku ini,” ucapku sambil terus menatap matanya yang lembut. Dinda tersenyum tanda mempersilahkan.
“Dinda, Kuingin merangkai kisah cinta bersamamu. Selamanya. Jangan pernah tinggalkan diriku.” Ucapku. Dinda semakin tersenyum lebar.
“Apa janjimu pada senja?” tanyanya sambil menatap lembayung senja yang semakin gelap.
“Aku tidak ingin kau pergi. Tetaplah disisiku.” janjiku
Dinda masih menatap senja. Namun senyumnya bisa kulihat.
“Itu saja?” tanyanya lagi.
“Percayalah, kau akan selalu ada dihatiku.” Bisiku padanya sambil kupeluk erat.
Senja di akhir juni menyaksikan janjiku padamu Dinda,
Kamu akan selalu ada dalam hatiku.Selalu.